Sejarah Islam di Anak Benua
India
(Asia Selatan)

Disusun
oleh:
Nur
Ikhsan D.C
10420021
Dosen
Pembimbing
DR. Nyimas Anisah Muhammad, M.A
Fakultas Adab & Humaniora
Sejarah Kebudayaan Islam
Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah
Palembang
2012
PENDAHULUAN
v Latar
Belakang
India merupakan salah satu Negara di
kawasan Asia Selatan yang terletak di Anak Benua India. India merupakan negara
terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis dan memiliki jumlah
penduduk hampir 1 milyar. Mayoritas penduduk merupakan pemeluk dari agama
Hindu, salah satu Raja terkenalnya adalah Raja Ashoka (273- 232 SM) dari
Kerajaan Maurya dan Kerajaan Dahar. Masuknya Islam ke India menandai kemunduran
dari perkembangan Hindu di India.
Masuknya Islam di India pada mulanya di
kenalkan oleh Umar bin Khatab pada abad ke-7 M, yang kemudian diteruskan oleh
Khalifah Arrasydin dengan cara damai. Perbedaan cara Islamisasi oleh
pemerintahan bani Umayah yang berpusat di Damaskus, dengan cara mengirim
Pasukan Islam ke India. Pada Abad ke- 13 hingga 15 M agama Islam berkembang
dengan pesat di India, dengan bukti adanya kerajaan-kerajaan Islam di India dan
bangunan-bangunan tempat ibadah.
India sejak dahulu sudah
memiliki hubungan dengan dunia Arab melalui perdagangan. Ketika Nabi Muhammad
SAW, berhasil menyebarkan ajaran agama Islam di seluruh wilayah Arab, maka para
pedagang Arab yang datang ke India juga sudah memeluk agama Islam dan sambil
berdagang mereka berdakwah menyebarkan agama Islam kepada penduduk India. Pada
masa kekhalifahan Umayah, pasukan Islam di bawah pimpinan Muhammad bin Qosim
menaklukkan wilayah Sind (India dan Punjab sekarang) dan berhasil membangun
peradaban Islam. Wilayah Sind sejak saat itu menjadi daerah kekuasaan
pemerintahan Islam.
ΓΌ
Masuknya
Islam ke Anak Benua India hingga Runtuhnya Kesultanan Mughal
Dalam tulisan Teuku May Rudy,
digambarkan bahwa ‘‘Anak Benua India’’, sebelum terpecah menjadi India,
Pakistan dan Bangladesh adalah sebuah wilayah yang terletak di kawasan Asia
Selatan yang mencakup luas kira-kira 2.075 mil dari utara ke selatan dan 2.120
mil dari Timur ke Barat. Di sebelah utara berbatasandengan wilayah tibet (Cina)
dan Afghanistan. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan laut (Samudera
Indonesia), di sebelah timur berbatasan dengan Burma dan sebelah barat
berbatasan dengan Persia (Iran).[1]
Nama India ini terambil dari
nama sungai Sindu, satu diantara sungai-sungai besar di Anak Benua India, yang
sekarang ini pemerintah di sana berusaha hendak mengembalikannya kepada namanya
yang asli, yaitu Bharat. Lantaran itu
maka disebut juga dengan nama Sind. Sind
telah pula menjadi nama daerah tempat kedudukan pusat Negara Pakistan sekarang
ini yaitu Karachi.[2]
Beratus tahun sebelum Nabi Isa a.s. lahir, India
telah menempati kedudukan yang tinggi dalam tamaddun dunia, terutama dalam soal
keagamaan dan metafisika. Dari sanalah timbulnya agama Brahmana yang terkenal
dan dari sana pula timbul Budha Gautama. Bahkan telah diselidiki bekas tamaddun
dari 5000 tahun yang telah lalu dengan penggalian sisa-sisa negeri yang bernama
Mohenjo-Daro. Dari bekas-bekas runtuhan kota lama itu telah didapati orang
kepandaian penduduknya dalam seni bangunan, telah diketahui orang juga dari hal
menulis dan telah ada juga tempat-tempat mandi serta gudang-gudang di dalam
tanah tempat menyimpan makanan.[3]
Sekitar 6000-5000 SM. Bangsa
Dravida datang ke India dari Asia Barat dengan kepercayaan terhadap adanya
Tuhan secara abstrak. Mereka inilah yang dianggap sebagai penduduk pribumi asli
India. Kemudian pada abad VI SM. Bangsa Aria dari Persia datang menguasai
Punjab dan Benares (India Utara) dengan membawa kepercayaan adanya Tuhan secara
nyata. Dasar kepercayaan bangsa Aria adalah syirik. Mereka menyembah api,
bulan, matahari, angkasa, angin, topan, samudera, sungai, pohon, patung dan
dewa-dewa. Untuk menyenangkan dewa-dewa tersebut, mereka menyembelih manusia
sebagai kurban.[4]
Wilayah Asia Selatan (India)
sejak dulu sudah terdapat dua golongan besar yang berbeda kepercayaan. Yaitu,
Dravida mempercayai agama secara abstrak dan Aria secara nyata, sehingga
terjadilah pertentangan-pertentangan kepercayaan. Akibatnya, bangsa Dravida
menjadi lemah dan ada yang ikut menganut kepercayaan bangsa Aria. Bangsa Aria
yang lebih kuat memaksa bangsa Dravida untuk menganut kepercayaan mereka.
Kemudian, kepercayaan ini berkembang menjadi agama Brahmana (Hindu) yang
melahirkan adanya kasta-kasta, yaitu kasta Brahmana, kasta Ksatriya, kasta
Waisa dan kasta Sudra.[5]
Anak benua India menggambarkan
suatu wilayah yang terpetak-petak yang terdiri atas dinasti-dinasti yang saling
bermusuhan dan kerajaan-kerajaan kecil yang saling bermusuhan dan
kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang. Kekacauan politik terburuk
sering terjadi di tanah ini selama lebih dari lima puluh tahun. bagianyang
tersisa dari negeri ini dibagi-bagikan diantara banyak penguasa independen
dengan beragam tingkat kekuasaan dan kehormatan. Tidak ada pusat pemerintahan
di negeri tersebut. Semua negara-negara ini menikmati kemerdekaan dari
kekuasaan seutuhnya. Negara-negara penting yang dapat disebutkan di
antaranya : Afghanistan, kashmir, Nepal, Assam, Qanauj, Sind, Bangla,
Malwa, Pallava, Chalukya, Pandya, Chola dan Chera. Raja adalah kepala
administrasi terhadap semua maksud dan tujuan, dia adalah seorang diktator.
Kondisi ekonomi rakyat
keseluruhan dapat dikatakan makmur. Rakyat berada dalam kondisi sejahtera dan
segala kebutuhan tercukupi. Pertanian merupakan pekerjaan utama rakyat
setempat. Negara mendorong tumbuhnya industri. Bangla dan Gujarat terkenal
sebagai produsen dan pengekspor barang-barang tekstil kapas. Tetapi kaum buruh
tani harus bekerja keras untuk mendapatkan makanan, sementara rakyat kelas atas
bergemilang harta dan kemewahan.[6]
Terdapat tiga agama yang
dominan yaitu Budha, Jaina dan Hindu pada awal penaklukan oleh Arab. Agama Jaina tidak populer dan Agama Budha sedang
menurun. Agama Hindu adalah agama yang paling penting bagi rakyat India. Hampir
semua raja menganut agama Hindu dan mengambil langkah-langkah untuk kepentingan
agamanya. Tekanan besar dari kelompok Brahmana terhadap penganut agama Budha
menyebabkan mereka mengharapkan datangnya kekuatan lain untuk menghindari
penguasa Hindu.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masyarakat
India terbagi dalam empat kasta. Masing-masing kasta tersebut tidak terikat
pada fungsinya sendiri. Ada brahmana yang bekerja sebagai tentara dan ksatria
bekerja sebagai pedagang. Demikian pula orang-orang Waisya dan Sudra tertentu
berperan sebagai pemimpin. Secara umum rakyat menikah diantara kastanya
masing-masing dan jarang perkawinan antar kasta. Poligami banyak diterapkan
dalam masyarakat, tetapi wanita tidak boleh menikah untuk kedua kalinya.[7]
Sejarah awal masuk Islam
di Anak Benua India dapat dibagi beberapa periode, yaitu periode Nabi Muhammad
SAW, periode Khulafaur Rasyidin, dan Dinasti Umayyah, periode Dinasti Ghazni
dan periode Dinasti Ghuri.[8]serta Kesutanan Delhi dan Mughal.
Masuknya Islam di India pada
masa Nabi lebih banyak melalui jalur informal. Rasulullah telah mengetahui
tentang daerah India dari para pedagang yang telah lama berhubungan dagang
dengan daerah tersebut. Pada zaman Nabi banyak orang dari suku Jat (India) menetap di Arab dan salah
satu diantara mereka mengobati dan menyembuhkan istri Rasulullah, Aisyah,
kemudian menjadi Khadimah Aisyah.
Pada tahun 630-631 M, Nabi
mulai berhubungan dengan luar dengan cara mengirim utusan dan menerima
kunjungan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pada masa ini,
Cheraman Perumal, Raja Kadangalur dari pantai Malabar yang telah memeluk agama
Islam.[9]
Pada
masa Khulafaur Rasyidin, beberapa ekspedisi ke India melaui laut. Invasi
melalui laut ke India tidak berhasil, karena tentara Arab kurang ahli di laut. Invasi
melalui laut selanjutnya dilarang oleh Umar Ibn Khattab.[10]
Kemudian pada tahun 643-644 M, di bawah pimpinan Abdullah bin Amar Rabbi
berhasil menguasai Kirman, Sizistan sampai ke Mekran untuk menyiarkan Islam dan
memperluas daerah kekuasaan Islam.
Pada masa Usman bin Affan,
telah dikirim utusan yang dipimpin oleh Hakim bin Jabalah untuk meninjau
keadaan wilayah yang luas tersebut. Dia diutus oleh gebernur Irak, Abdullah bin
Amir bin Kuraiz. Pada tahun 660-661 M, Khalifah terakhir dari Khulafaur
Rasyidin, Sayidina Ali bin Abi Thalib, telah mengirim utusan di bawah pimpinan
Al-Harits bin Murrah Al-Abdi. Semua utusan tersebut menyelidiki adat istiadat
dan juga perhubungan serta jalan-jalan yang akan mempermudah untuk
menjangkaunya kelak. Inilah awal mula Islam menyebar ke India melalui jalan
darat.[11]
Pada
zaman Bani Umayah I, sayidina Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dikirimlah angkatan
perang di bawah pimpinan al-Muhallab bin Abi Shufrah, seorang pimpinan perang
yang gagah berani. Perjalanannya hanya sampai ke Kabul (Ibu kota Afghanistan)
dan Multan. Sejak saat itu India dan jalan ke sana menjadi perhatian dan minat
orang-orang Islam yang secara berangsur-angsur menjalin hubungan ke sana.[12]
Ekspansi
Muslim ke India bermula pada keberhasilan penaklukan bangsa Arab atas wilayah
Sind di bawah pimpinan Muhammad Ibn Qasim pada tahun 711 M. Islam tersebar
semakin luas di India oleh invasi Ghaznawi, khususnya pada masa kepemimpinan
Mahmud Ghaznawi 1030 M.[13]
awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah Al-Walid I,
dari dinasti Bani Umayyah. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani
Umayyah di bawah pimpinan Muhammad Ibn Qasim.[14] Kaum
Muslimin mengenal Daerah ini dengan sebutan Sind sejak tahun 711 M. Ketika
panglima Umayyah, Muhammad bin Qasim menyerbu wilayah ini . selama tiga tahun
pemerintahan Umayyah, periode Khalifah Al-Walid I menduduki daerah ini,
tepatnya daerah Indus bawah.[15]
Dinasti
Ghazni, Cikal bakal
kerajaan ini adalah sebuah kerajaan kecil yang berdaulat penuh dengan ibu
kotanya Ghazni. Pendirinya adalah seorang hamba sahaya dari Kerajaan Turki yang dapat memerdekakan dirinya
pada 961-962 M. namanya adalah Alpitigin. Kemudian ia digantikan oleh
menantunya yang bernama Sabaktigin (Mahmud Sabaktigin bin Alp Takin dari
Ghazna). Dibawah pemerintahannya Kerajaan Ghazna semakin luas berkembang sampai
Afganistan. Kemudian dibawah penggantinya yaitu Mahmud Ghazna berhasil memasuki
perbatasan India, negara tetangga yang kaya raya dan sangat diidam-idamkan para
leluhurnya itu.[16]
Mahmud Ghazna (973-1073
M) anak panglima Turki yang bernama Alptaqin, ia menggantikan dan
menyempurnakan pendudukannya pada tahun 1030 M. ia mampu menguasai India Utara
dan Lahore.[17] Sekalipun demikian, pusat pemerintahannya ia bangun
di daerah antara Afghanistan dan Khurasan. Tak pelak lagi merupakan ksatria
terbesar di zaman tengah Islam. Dia taklukkan seluruh dunia Islam bagian Timur,
provinsi-provinsi penting di Persia Tengah, seberang sungai Indus, Punjab,
Multan dan bagian-bagian dari Sind. Tujuh belas kali dia menyerbu dengan
prajuritnya jauh ke dalam India, setiap kali kembali dengan jarahan yang
berlimpah.[18] Dia adalah pemimpin Muslim pertama yang menyerang
dari pintu masuk yang sangat strategis di Barat Daya yang membuka jalan bagi
umat seagamanya untuk datang ke tanah subur India. Ahli sejarah, baik bangsa
Eropa sendiri, apalagi penulis-penulis sejarah Islam, mengakui kebesaran Mahmud
melebihi Alexander Agung, karena Alexander Agung tidak ditemui jejaknya setelah meninggal. Mahmud Ghaznawi telah
meninggalkan jejak yang paling kokoh di India, yaitu pengaruh Islam dan
kebudayaannya yang kelak kemudian hari diikuti oleh kerajaan-kerajaan islam
lainnya.[19]
Kerajaan Ghuri (1186-1287 M)
terletak didaerah perbukitan antara Ghazni dan Herat. tempat kediaman mereka
adalah Firuz-Koh, artinya Gunung Hijau. Nenek moyang Raja-raja ini bernama Sham
Khan. Di tahun 1186 mulailah timbul rajanya yang pertama, yang mulai pula
meluaskan kuasanya, yaitu Alaudin Husain bin Husain. Mula-mulanya direbutnya
negeri Ghaznah sendiri dan ditaklukannya raja Ghaznah Khisru Syah bin Baheram,
sehingga puteranya, raja Ghaznah yang terakhir Malik Syah bin Khisru Syah
terpaksa berpindah ke Lahore, kemudian Lahore itu pun ditaklukan pula, sehingga
hapuslah kerajaan Sabaktakin (Ghaznah).[20]
Berbeda
dengan kerajaan Ghaznah yang berasal dari Turki Turani, kerajaan Ghuri berdarah Afghan Irani, setelah
Alaudin dapat mengalahkan kerajaan Ghaznah itu dipakainya gelar ‘Al-Malik Al-Mu’azzam’ (Raja Besar). Setelah dia meninggal,
digantikan oleh Ghiatshudin Abul Muzaffar Muhammad bin Sam bin Husain. Setelah
itu digantikan saudaranya Syihabuddin (600 H). di waktu itulah hidup Imam
Fakhrudin Al-Razi, ahli tafsir terkenal. Adapun yang mendapat catatan istimewa
dalam sejarah, sebagai timbalan Sultan Mahmud Ghaznawi dalam perkataan sejarah
Islam di India itu, senantiasa orang menyebutkan kedua nama ini laksana
dikembarkan, ialah Sultan Muhammad Abul Muzaffar bin Al-Husain Al-Ghuri.[21]
Naiknya
Muhammad Al-Ghuri maka seluruh wilayah yang dahulu dikuasai oleh kerajaan
Ghaznah, semua ditaklukan dan dikuasainya. Kota Delhi dipilih menjadi pusat
pemerintahannya secara permanen. Kekuasaannya lebih luas dari kekuasaan
kerajaan Ghaznawi dulu, terutama memilih Delhi menjadi pusat. Sebab dari
sana mudah sekali membagikan kekuasaan
ke seluruh benua India itu. Maharaja-maharaja India mengaku takluk dan membayar
upeti setiap tahun. Muhammad Al-Ghurilah yang ,menanamkan kekuasaan Islam yang
sebenarnya di India Itu, yang kemudian diikuti oleh kerajaan-kerajaan Islam
yang datang di belakang, meskipun penduduk asli sebagai jumlah yang terbesar,
namun undang-undang pokok yang berlaku dalam seluruh India ialah undang-undang
Islam. Maharaja-maharaja tunduk ke bawah kekuasaan itu dan bebas melakukan
agamanya dan mendirikan kuilnya.[22]
Sultan Mu’izzuddin Muhammad
Ghuri (1163-1203 M) dan para jenderalnya menjadikan Punjab sebagai batu
loncatan untuk menguasai India Utara. Sultan mempercayakan daerah taklukkann
Dinasti Ghuri di India di tangan panglimanya yang bernama Quthbuddin Aybak,
yang menjalankan pemerintahan di kota Delhi. Dia menguasai taklukkan Ghuriyyah
di Punjab, wilayah Doab (antara sungai Gangga dan Jumma) dan menyerbu hingga
Gujarat. Setelah Sultan Mu’izzuddin Muhammad
Ghuri meninggal dunia pada 1206 M, Quthbuddin Aybak mengangkat dirinya
sebagai penguasa (Malik) di Lahore atas nama Sultan Ghuriyyah. Sejak itu
dimulai era yang dikenal dengan Raja Budak (berkuasa 1206-1290 M). Bersama
dengan 5 dinasti yang lain, yaitu Dinasti Khalji (1290-1320 M), Dinasti Tughlaq
(1320-1414 M), Dinasti Sayyid (1414-1451 M), Dinasti Lodi (1451-1526 M) dan
Dinasti Suri/Afghan (1540-1555 M), masa ini disebut dengan masa Kesultanan
Delhi, karena pusat pemerintahannya semua berada di kota Delhi.[23]
Seperti dijelaskan di muka
bahwa pada 1206-1290 M, kepemimpinan pemerintahan dan kesultanan Ghuri dan misi
penaklukkannya dilanjutkan kembali oelh panglima utamanya, Quthbuddin Aybak. Ia
sang penakluk Delhi ini. Untuk selanjutnya, secara independen, ia membentuk
dinasti yang berpusat di Delhi dengan nama Kesultanan Delhi (1206-1526 M).
Kesultanan yang berisi para budak militer ini juga menandai adanya periode
tunggal dalam sejarah Muslim India. Inilah periode kekuasaan para budak militer (the
slave soldiers) yang mewarnai wilayah Timur Islam, pasca Abassiyah di
sebelah Barat, terutama Mesir dan Syria, kekuatan seperti ini sedangditunjukkan
pula oleh para budak-budak militer Turki yang teroganisir dalam Muluk al-Burji dan Muluk al-Bahri. Mereka pada umumnya, mencari legimtimasi kekuasaan
dengan bernaung di bawah legitimasi para pewaris keluarga khalifah Dinasti
Abassiyah.[24]
Kesuksesan sultan-sultan
budak dalam memerintah wilayah sekitar India bukan hanya menghasilkan kontrol
politik , melainkan juga sangat mewarnai proses Islamisasi. Salah satu cara
yang dilakukan para penguasa untuk mengenalkan Islam kepada Mereka adalah menerjemahkan
teks-teks keislaman dengan jumlah kurang lebih 1.500 buah dari bahasa Arab dan
Persia ke dalam berbagai bahasa lokal India. Dengan cara demikian, pemikiran
tentang keislaman masuk ke dalam masyarakat India, kecuali di pusat-pusat Hindu
yang ekstrem seperti di Vijayanagar. Contoh spesifik dalam hal ini adalah
hubungan Sultan Muhammad Tughlaq (1325-1351 M) yang begitu dalam dengan
pemikiran Ibnu Taimiyah (1263-1327 M), seorang pemikir pasca Mongol (the post Mongol period).
Sultan-sultan
budak setelah periode Khalji (1290-1320 M) dan Tughlaq (1320-1413 M) mulai
menurun. Periode ini dipegang oleh keluarga budak Sayyid (1414-1451 M) turunan
keluarga Rasulullah Saw, dan keluarga Lodi (1451-1526 M). Banyak kekuatan
Muslim dan non-Muslim yang melepaskan diri menjadi wilayah-wilayah merdeka. Sekalipun
demikian, tradisi Persia tetap terpelihara dalam bahasa administrasi di
wilayah-wilayah kekuasaan. Secara keseluruhan, periode pembentukan pemerintahan
Muslim di India masa ini adalah dominasi Turki yang sepak terjangnya bertujuan
untuk mempertahankan kekuasaan (jabatan) yang dimilikinya dari serangan
orang-orang non-Turki, baik penetap atau yang migrasi ke India. Inilah yang
disebut gerakan ‘‘Islam politik Turki‘‘.[25]
Shir
Shah Suri (1540-1555 M). Tokoh ini mampu berkuasa di Delhi karena dapat
mengalahkan Humayun (putra Babur) dalam pertemuran di Kanawj pada 1540 M. Shir
Shah Suri adalah figur raja yang cakap dalam memerintah. Dalam kaitann dengan
land-reform, Sultan Shir Shah Suri mengorganisirkan parganas (semacam
desa-desa) sebagai satuan-satuan administratif dan mengangkat Amin bertanggung jawab menangani soal
pengumpulan pajak/penaksiran penghasilan dan tugas-tugas perdata. Sementara Shiqdar mempunyai fungsi dan kekuasaan
kepolisian (mengurusi soal-soal pidana).
Sayangnya
para penerus Shir Shah Suri merupakan figur raja-raja yang lemah, sehingga
Humayun dari Dinasti Mughal mampu melakukan revanche
(pembalasan) yang berakibat ambruknya kekuasaan Dinasti Suri dan mulailah masa
imperium Mughal yang agung.[26]
Dinasti
Turki-Afgani digantikan oleh Dinasti Mughal, Enam Maharaja yang pertama dari
Dinasti ini (1526-1707 M), mempunyai pemerintah yang gemilang. Disepanjang zaman
orang menganggap pemerintahan yang Enam itu, sebagai zaman emas pemerintahan
Islam di India.
Babur (1526-1530 M), pemenang dari
Dinasti tersebut, mulanya adalah raja dari kerajaan Turkistan yang begitu
penting artinya. Karena keunggulan pasukan meriamnya, dapat mengalahkan
keturunan yang akhir dari Dinasti Turki-Afgani, yaitu Lodi. Raja-raja Mughal lah yang meletakkan dasar pemerintahan
modern di India dan gedung-gedung yang didirikan oleh mereka sampai sekarang
menjadi buah pujian.
Akbar (1556-1605 M) menaklukan seluruh
India, terkecuali ujung yang disebelah selatan sekali. Keadaan ekonomi selama
pemerintahannya sehat oleh karena pemungutan pajak tanah dilakukan secara
teratur dan teliti. Sejak ia naik tahta, ia menetapkan bahwa kekuasaan yang
dipegangnya itu tidaklah boleh bersandar hanya pada kesetian pembesar-pembesar
yang berbangsa Mughal, Turki dan Afghani. Tapi harus bertopang pada kesetiaan
rakyat banyak, dengan tidak memandang bangsa maupun agama. Demikianlah baginda
mendapat sokongan dari kepala-kepala bangsa Rajput karena baginda
memperkenankan mereka sendiri. Pada golongan Hindu nama raja menjadi harum oleh
karena ia melarang pemungutan pajak atas orang-orang Hindu yang pergi
berziarah. Juga jizyah, yaitu pajak
yang dikenakan pada orang yang bukan beragama Islam, dihapuskan baginda. Dalam
politik-agama ini Akbar disokong oleh wazirnya yang termashur, Abu Farl. Pada lapangan pemerintahan pun
tidaka ada perbedaan. Orang Hindu dipakai sebagai menteri dan kepala-tentara.
Kota kediamannya Fatehpur Sikri,
menunjukkan sintesa yang baik sekali antara gaja-Hindu dan Muughal. Tujuan
hidup baginda ialah melihat rakyat rukun, damai dan bersatu. Oleh karena itu ia
mengajak ulama-ulama Islam, biksu-biksu Hindu dan pendeta-pendeta Kristen
bertukar pikiran dengan dia untuk menciptakan sebuah agama baru. Dalam agama
yang baru ini dialah yang akan menjadi pusatnya.[27]
Sultan
Akbar wafat karena terserang penyakit
disentri. Lalu putranya yang bernama Salim dinobatkan sebagai penggantinya
dengan bergelar Nuruddin Jahangir
(1605-1627 M). Jahangir tidak secakap
ayahnya, hanya saja dia mewarisi pemerintahan yang sudh mapan dan
teratur hasil kerja ayahnya. Dia hidup di istana Delhi dalam kemewahan.
Tabiatnya tidak tetap, kadang bisa bengis, tetapi terkadang sangat halus
perasaannya. Ini membuat Jahangir mudah dipengaruhi oleh permaisurinya. riwayat
hidup Jahangir ditulisnya sendiri (otobiografi) yang tertuang di bawah judul Tzuki Jahangiri. Jahangir kemudian
digantikan oleh putranya, hasil perkawinan dengan Nur Jehan, bernama Khurram
yang nantinya bergelar Syah Jehan. Sayangnya Khurram berhasil naik tahta dengan
jalan yang memberontak terhadap jahangir pada 1627 M, saat mana Jahangir sedang
sibuk berperang dengan raja Iran memperebutkan Kandahar.[28]
Syihabuddin Syah Jehan (1628-1658 M)
memerintah, menurut suatu berita, dengan cara membunuh hampir semua
keluarganya, termasuk adiknya, Syah Ryar. Tahun pertama pemerintahannya, Syah
Jehan harus menghadapi Khan Jahan Lodi, penguasa Afghanistan yang menyerbu
India Utara. Tahun kedua, Syah Jehan bertempur dengan bangsa Rajput. Kedua
musuh tersebut dapat dipukul mundur.
Syah
Jehan menikah dengan seorang putri bernama Mumtaz Mahal, anak Azaf Khan
(saudara Nur Jehan). Inilah istri yang sangat dikasihi oleh Syah Jehan dan
ketika meninggal dalam tahun 1631 M, Syah Jehan membangun Taj Mahal untuk
mengenang istrinya itu. Bangunan Taj Mahal adalah puncak dari arsitektur
imperium Mughal, semua bahan tersebut terbuat dari batu marmer, sangat indah
dan monumental. Bangunan yang berfungsi sebagai makam (simbolik) ini terletak
di kota Agra.[29]
Dalam masa pemerintahan Syah
Jehan, Inggris mulai melakukan aktivitas perdagangan di wilayah imperium
Mughal. Ketika itu boleh dikatakan aktivitas Inggris masih murni perdagangan
dan para penguasa Mughal menerima mereka dengan baik. Contoh, kunjungan Sir
Thomas Roe kepada Sultan Jahangir pada 1616 M membuat inggris diizinkan
mendirikan ‘‘factory“ (kantor dagang)
di Masulipatam. Pada 1639 M, Syah Jehan dengan kerelaan dari pangeran
Chandragiri (keturunan raja-raja Vijayanagar yang telah ditaklukkan oleh
imperium Mughal dan telah beragama Islam), menghadiahkan sebidang tanah di kota
Madras kepada bangsa Inggris/East India Company (EIC) yang kemudian dibangun ‘‘factory‘‘ dan benteng St. George.
Antara 1650-1651, sultan Syah Jehan juga mengizinkan EIC untuk mendirikan ‘‘factory‘‘ di kota Hugli dan Qasimbazar
serta memberi beberapa konsesi dagang.[30]
Dari
pernikahannya dengan Mumtaz Mahal, Syah Jehan mempunyai empat putra yang
nantinya saling bersaing untuk memperebutkan tahta Mughal. Mereka semua
diangkat menjadi gubernur yaitu Dara Syikoh, Syah Syuja, Aurangzeb dan Murad
Bakhsy.[31] Secara
umum, pada periode Syah Jehan, terutama pada akhir kekuasaannya, ada dua
kebijakan yang dimainkan oleh dua orang putranya, Dara Syikoh dan Aurangzeb.
Dara syikoh lebih berpikiran uniersal karena lebih banyak menggunakan
hukum-hukum Hindu bila dalam Alquran tidak ditemukan, dibandingkan hasil-hasil
ijtihad ulama saat itu. Sebaliknya, Aurangzeb lebih menekankan tradisi Islam
(nilai-nilai syariah, tradisional). Pada akhirnya, Dara Syikoh dibunuh oleh
Aurangzeb dan ayahnya, sedangkan Syah Jehan dienjarakan. Ia mewarisi kesultanan
pada 1658 M.[32]
Aurangzeb (1658-1707 M) adalah raja
Mughal yang akhir sekali. Sifatnya rajin, bersungguh-sungguh dan beriman.
Tujuan pemerintahannya ialah menyusun kerajaan menurut hukum-hukum Islam.
Jizyah yang semasa Akbar dihapuskan, ditimbulkan kembali. Tempat-tempat memuja
berhala diruntuhkan dan orang-orang Hindu dikeluarkan dari jabatan pemerintahan
yang tinggi-tinggi.
Memang
sebagian besar dari hidupnya dihabiskan oleh Aurangzeb untuk berperang. Berperang
melawan kepala-kapala suku bangsa Hindu Rajputana dan Maratha. Tidaklah
mengherankan kalau akhir pemerintahan yang serupa itu ialah kekacauan ekonomi.
Suku bangsa Maratha terus-menerus melakukan perang gerilya, tapi ini bukanlah
sebab yang utama meruntuhkan kerajaan itu. Sebab-sebab yang langsung, harus
dicari pada pemungutan pajak yang tidak beraturan dan juga karena orang yang
menggantikan Aurangzeb tidak kuasa mempertahankan dan menjatuhkan seluruh kerajaan.[33]
KESIMPULAN
Pada zaman Nabi
SAW. Islam masuk ke India secara melalui perdagangan di kota-kota pesisir
pantai barat dan selatan. Pada waktu itu kondisi sosial dan politik India
sedang rapuh dengan terjadinya penindasan kaum kasta Brahmana terhadap kasta
yang lebih rendah dan orang-orang Budha juga terjadinya perebutan kekuasaan di
antara raja-raja Hindu. Hubungan politik antara Arab dan India sedang rapuh.
Dalam kondisi demikian pasukan Islam di bawah pimpinan Muhammad bin Qasim
datang membawa harapan bagi keselamatan orang-orang yang tertindas. Sejak saat
itu agama Islam tersiar di India baik melalui jalur laut dan jalur darat.
Pergerakan pasukan Islam ke India terus berlangsung sampai terbentuknya
Kerajaan Islam.
Kehadiran Islam berpengaruh terhadap
seluruh tatanan kehidupan orang-orang Hindu yang musyrik dan jahiliah. Pada era
Islam, terdapat kebangkitan berbagai aspek kehidupan, ekonomi, pendidikan,
politik, dan lainnya. Kehadiran Islam di India juga telah mendorong
meningkatnya perdagangan yang tadinya lokal menjadi lebih global. Lewat
pedagang-pedagang Muslim, perdagangan India menyebar ke Timur Tengah, Mongolia,
dan Indonesia di Asia Tenggara. perkembangan peradaban semakin pesat dengan
banyaknya para sufi, ulama, ilmuwan dan para ahli di berbagai bidang masuk ke
India. Kedatangan Islam ke Anak benua India tidak berdasarkan kekerasan, tetapi
merupakan kebutuhan masyarakat saat itu.
[16] Artikel diakses pada 25
September 2012 dari http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2155505-masuknya-islam-di-india/#ixzz26ouZal1l
[24]
Ajid Thohir dan Ading Kusdiana, Islam di Asia Selatan (Bandung:
Humaniora, 2006), h. 88-89.