Senin, 05 Mei 2014

Sejarah Islam di Anak Benua India (Asia Selatan)

Sejarah Islam di Anak Benua India
(Asia Selatan)

IAIN BAYANG



Disusun oleh:
Nur Ikhsan D.C
10420021

Dosen Pembimbing
DR. Nyimas Anisah Muhammad, M.A




Fakultas Adab & Humaniora
Sejarah Kebudayaan Islam
Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah
Palembang

2012

PENDAHULUAN

v     Latar Belakang

     India merupakan salah satu Negara di kawasan Asia Selatan yang terletak di Anak Benua India. India merupakan negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis dan memiliki jumlah penduduk hampir 1 milyar. Mayoritas penduduk merupakan pemeluk dari agama Hindu, salah satu Raja terkenalnya adalah Raja Ashoka (273- 232 SM) dari Kerajaan Maurya dan Kerajaan Dahar. Masuknya Islam ke India menandai kemunduran dari perkembangan Hindu di India.
     Masuknya Islam di India pada mulanya di kenalkan oleh Umar bin Khatab pada abad ke-7 M, yang kemudian diteruskan oleh Khalifah Arrasydin dengan cara damai. Perbedaan cara Islamisasi oleh pemerintahan bani Umayah yang berpusat di Damaskus, dengan cara mengirim Pasukan Islam ke India. Pada Abad ke- 13 hingga 15 M agama Islam berkembang dengan pesat di India, dengan bukti adanya kerajaan-kerajaan Islam di India dan bangunan-bangunan tempat ibadah.
India sejak dahulu sudah memiliki hubungan dengan dunia Arab melalui perdagangan. Ketika Nabi Muhammad SAW, berhasil menyebarkan ajaran agama Islam di seluruh wilayah Arab, maka para pedagang Arab yang datang ke India juga sudah memeluk agama Islam dan sambil berdagang mereka berdakwah menyebarkan agama Islam kepada penduduk India. Pada masa kekhalifahan Umayah, pasukan Islam di bawah pimpinan Muhammad bin Qosim menaklukkan wilayah Sind (India dan Punjab sekarang) dan berhasil membangun peradaban Islam. Wilayah Sind sejak saat itu menjadi daerah kekuasaan pemerintahan Islam.

ΓΌ      Masuknya Islam ke Anak Benua India hingga Runtuhnya Kesultanan Mughal
Dalam tulisan Teuku May Rudy, digambarkan bahwa ‘‘Anak Benua India’’, sebelum terpecah menjadi India, Pakistan dan Bangladesh adalah sebuah wilayah yang terletak di kawasan Asia Selatan yang mencakup luas kira-kira 2.075 mil dari utara ke selatan dan 2.120 mil dari Timur ke Barat. Di sebelah utara berbatasandengan wilayah tibet (Cina) dan Afghanistan. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan laut (Samudera Indonesia), di sebelah timur berbatasan dengan Burma dan sebelah barat berbatasan dengan Persia (Iran).[1]
Nama India ini terambil dari nama sungai Sindu, satu diantara sungai-sungai besar di Anak Benua India, yang sekarang ini pemerintah di sana berusaha hendak mengembalikannya kepada namanya yang asli, yaitu Bharat. Lantaran itu maka disebut juga dengan nama Sind. Sind telah pula menjadi nama daerah tempat kedudukan pusat Negara Pakistan sekarang ini yaitu Karachi.[2]
            Beratus tahun sebelum Nabi Isa a.s. lahir, India telah menempati kedudukan yang tinggi dalam tamaddun dunia, terutama dalam soal keagamaan dan metafisika. Dari sanalah timbulnya agama Brahmana yang terkenal dan dari sana pula timbul Budha Gautama. Bahkan telah diselidiki bekas tamaddun dari 5000 tahun yang telah lalu dengan penggalian sisa-sisa negeri yang bernama Mohenjo-Daro. Dari bekas-bekas runtuhan kota lama itu telah didapati orang kepandaian penduduknya dalam seni bangunan, telah diketahui orang juga dari hal menulis dan telah ada juga tempat-tempat mandi serta gudang-gudang di dalam tanah tempat menyimpan makanan.[3]   
Sekitar 6000-5000 SM. Bangsa Dravida datang ke India dari Asia Barat dengan kepercayaan terhadap adanya Tuhan secara abstrak. Mereka inilah yang dianggap sebagai penduduk pribumi asli India. Kemudian pada abad VI SM. Bangsa Aria dari Persia datang menguasai Punjab dan Benares (India Utara) dengan membawa kepercayaan adanya Tuhan secara nyata. Dasar kepercayaan bangsa Aria adalah syirik. Mereka menyembah api, bulan, matahari, angkasa, angin, topan, samudera, sungai, pohon, patung dan dewa-dewa. Untuk menyenangkan dewa-dewa tersebut, mereka menyembelih manusia sebagai kurban.[4]
            Wilayah Asia Selatan (India) sejak dulu sudah terdapat dua golongan besar yang berbeda kepercayaan. Yaitu, Dravida mempercayai agama secara abstrak dan Aria secara nyata, sehingga terjadilah pertentangan-pertentangan kepercayaan. Akibatnya, bangsa Dravida menjadi lemah dan ada yang ikut menganut kepercayaan bangsa Aria. Bangsa Aria yang lebih kuat memaksa bangsa Dravida untuk menganut kepercayaan mereka. Kemudian, kepercayaan ini berkembang menjadi agama Brahmana (Hindu) yang melahirkan adanya kasta-kasta, yaitu kasta Brahmana, kasta Ksatriya, kasta Waisa dan kasta Sudra.[5] 
Anak benua India menggambarkan suatu wilayah yang terpetak-petak yang terdiri atas dinasti-dinasti yang saling bermusuhan dan kerajaan-kerajaan kecil yang saling bermusuhan dan kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang. Kekacauan politik terburuk sering terjadi di tanah ini selama lebih dari lima puluh tahun. bagianyang tersisa dari negeri ini dibagi-bagikan diantara banyak penguasa independen dengan beragam tingkat kekuasaan dan kehormatan. Tidak ada pusat pemerintahan di negeri tersebut. Semua negara-negara ini menikmati kemerdekaan dari kekuasaan seutuhnya. Negara-negara penting yang dapat disebutkan di antaranya : Afghanistan, kashmir, Nepal, Assam, Qanauj, Sind, Bangla, Malwa, Pallava, Chalukya, Pandya, Chola dan Chera. Raja adalah kepala administrasi terhadap semua maksud dan tujuan, dia adalah seorang diktator.
Kondisi ekonomi rakyat keseluruhan dapat dikatakan makmur. Rakyat berada dalam kondisi sejahtera dan segala kebutuhan tercukupi. Pertanian merupakan pekerjaan utama rakyat setempat. Negara mendorong tumbuhnya industri. Bangla dan Gujarat terkenal sebagai produsen dan pengekspor barang-barang tekstil kapas. Tetapi kaum buruh tani harus bekerja keras untuk mendapatkan makanan, sementara rakyat kelas atas bergemilang harta dan kemewahan.[6]
Terdapat tiga agama yang dominan yaitu Budha, Jaina dan Hindu pada awal penaklukan oleh Arab. Agama Jaina tidak populer dan Agama Budha sedang menurun. Agama Hindu adalah agama yang paling penting bagi rakyat India. Hampir semua raja menganut agama Hindu dan mengambil langkah-langkah untuk kepentingan agamanya. Tekanan besar dari kelompok Brahmana terhadap penganut agama Budha menyebabkan mereka mengharapkan datangnya kekuatan lain untuk menghindari penguasa Hindu.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masyarakat India terbagi dalam empat kasta. Masing-masing kasta tersebut tidak terikat pada fungsinya sendiri. Ada brahmana yang bekerja sebagai tentara dan ksatria bekerja sebagai pedagang. Demikian pula orang-orang Waisya dan Sudra tertentu berperan sebagai pemimpin. Secara umum rakyat menikah diantara kastanya masing-masing dan jarang perkawinan antar kasta. Poligami banyak diterapkan dalam masyarakat, tetapi wanita tidak boleh menikah untuk kedua kalinya.[7]
            Sejarah awal masuk Islam di Anak Benua India dapat dibagi beberapa periode, yaitu periode Nabi Muhammad SAW, periode Khulafaur Rasyidin, dan Dinasti Umayyah, periode Dinasti Ghazni dan periode Dinasti Ghuri.[8]serta Kesutanan Delhi dan Mughal.
Masuknya Islam di India pada masa Nabi lebih banyak melalui jalur informal. Rasulullah telah mengetahui tentang daerah India dari para pedagang yang telah lama berhubungan dagang dengan daerah tersebut. Pada zaman Nabi banyak orang dari  suku Jat (India) menetap di Arab dan salah satu diantara mereka mengobati dan menyembuhkan istri Rasulullah, Aisyah, kemudian menjadi Khadimah Aisyah.
            Pada tahun 630-631 M, Nabi mulai berhubungan dengan luar dengan cara mengirim utusan dan menerima kunjungan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pada masa ini, Cheraman Perumal, Raja Kadangalur dari pantai Malabar yang telah memeluk agama Islam.[9]
            Pada masa Khulafaur Rasyidin, beberapa ekspedisi ke India melaui laut. Invasi melalui laut ke India tidak berhasil, karena tentara Arab kurang ahli di laut. Invasi melalui laut selanjutnya dilarang oleh Umar Ibn Khattab.[10] Kemudian pada tahun 643-644 M, di bawah pimpinan Abdullah bin Amar Rabbi berhasil menguasai Kirman, Sizistan sampai ke Mekran untuk menyiarkan Islam dan memperluas daerah kekuasaan Islam.
            Pada masa Usman bin Affan, telah dikirim utusan yang dipimpin oleh Hakim bin Jabalah untuk meninjau keadaan wilayah yang luas tersebut. Dia diutus oleh gebernur Irak, Abdullah bin Amir bin Kuraiz. Pada tahun 660-661 M, Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin, Sayidina Ali bin Abi Thalib, telah mengirim utusan di bawah pimpinan Al-Harits bin Murrah Al-Abdi. Semua utusan tersebut menyelidiki adat istiadat dan juga perhubungan serta jalan-jalan yang akan mempermudah untuk menjangkaunya kelak. Inilah awal mula Islam menyebar ke India melalui jalan darat.[11]
            Pada zaman Bani Umayah I, sayidina Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dikirimlah angkatan perang di bawah pimpinan al-Muhallab bin Abi Shufrah, seorang pimpinan perang yang gagah berani. Perjalanannya hanya sampai ke Kabul (Ibu kota Afghanistan) dan Multan. Sejak saat itu India dan jalan ke sana menjadi perhatian dan minat orang-orang Islam yang secara berangsur-angsur menjalin hubungan ke sana.[12]
            Ekspansi Muslim ke India bermula pada keberhasilan penaklukan bangsa Arab atas wilayah Sind di bawah pimpinan Muhammad Ibn Qasim pada tahun 711 M. Islam tersebar semakin luas di India oleh invasi Ghaznawi, khususnya pada masa kepemimpinan Mahmud Ghaznawi 1030 M.[13] awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah Al-Walid I, dari dinasti Bani Umayyah. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Muhammad Ibn Qasim.[14] Kaum Muslimin mengenal Daerah ini dengan sebutan Sind sejak tahun 711 M. Ketika panglima Umayyah, Muhammad bin Qasim menyerbu wilayah ini . selama tiga tahun pemerintahan Umayyah, periode Khalifah Al-Walid I menduduki daerah ini, tepatnya daerah  Indus bawah.[15]
            Dinasti Ghazni, Cikal bakal kerajaan ini adalah sebuah kerajaan kecil yang berdaulat penuh dengan ibu kotanya Ghazni. Pendirinya adalah seorang hamba sahaya dari Kerajaan Turki yang dapat memerdekakan dirinya pada 961-962 M. namanya adalah Alpitigin. Kemudian ia digantikan oleh menantunya yang bernama Sabaktigin (Mahmud Sabaktigin bin Alp Takin dari Ghazna). Dibawah pemerintahannya Kerajaan Ghazna semakin luas berkembang sampai Afganistan. Kemudian dibawah penggantinya yaitu Mahmud Ghazna berhasil memasuki perbatasan India, negara tetangga yang kaya raya dan sangat diidam-idamkan para leluhurnya itu.[16]
            Mahmud Ghazna (973-1073 M) anak panglima Turki yang bernama Alptaqin, ia menggantikan dan menyempurnakan pendudukannya pada tahun 1030 M. ia mampu menguasai India Utara dan Lahore.[17] Sekalipun demikian, pusat pemerintahannya ia bangun di daerah antara Afghanistan dan Khurasan. Tak pelak lagi merupakan ksatria terbesar di zaman tengah Islam. Dia taklukkan seluruh dunia Islam bagian Timur, provinsi-provinsi penting di Persia Tengah, seberang sungai Indus, Punjab, Multan dan bagian-bagian dari Sind. Tujuh belas kali dia menyerbu dengan prajuritnya jauh ke dalam India, setiap kali kembali dengan jarahan yang berlimpah.[18] Dia adalah pemimpin Muslim pertama yang menyerang dari pintu masuk yang sangat strategis di Barat Daya yang membuka jalan bagi umat seagamanya untuk datang ke tanah subur India. Ahli sejarah, baik bangsa Eropa sendiri, apalagi penulis-penulis sejarah Islam, mengakui kebesaran Mahmud melebihi Alexander Agung, karena Alexander Agung tidak ditemui jejaknya  setelah meninggal. Mahmud Ghaznawi telah meninggalkan jejak yang paling kokoh di India, yaitu pengaruh Islam dan kebudayaannya yang kelak kemudian hari diikuti oleh kerajaan-kerajaan islam lainnya.[19]
            Kerajaan Ghuri (1186-1287 M) terletak didaerah perbukitan antara Ghazni dan Herat. tempat kediaman mereka adalah Firuz-Koh, artinya Gunung Hijau. Nenek moyang Raja-raja ini bernama Sham Khan. Di tahun 1186 mulailah timbul rajanya yang pertama, yang mulai pula meluaskan kuasanya, yaitu Alaudin Husain bin Husain. Mula-mulanya direbutnya negeri Ghaznah sendiri dan ditaklukannya raja Ghaznah Khisru Syah bin Baheram, sehingga puteranya, raja Ghaznah yang terakhir Malik Syah bin Khisru Syah terpaksa berpindah ke Lahore, kemudian Lahore itu pun ditaklukan pula, sehingga hapuslah kerajaan Sabaktakin (Ghaznah).[20]
            Berbeda dengan kerajaan Ghaznah yang berasal dari Turki Turani,  kerajaan Ghuri berdarah Afghan Irani, setelah Alaudin dapat mengalahkan kerajaan Ghaznah itu dipakainya gelar Al-Malik Al-Mu’azzam (Raja Besar). Setelah dia meninggal, digantikan oleh Ghiatshudin Abul Muzaffar Muhammad bin Sam bin Husain. Setelah itu digantikan saudaranya Syihabuddin (600 H). di waktu itulah hidup Imam Fakhrudin Al-Razi, ahli tafsir terkenal. Adapun yang mendapat catatan istimewa dalam sejarah, sebagai timbalan Sultan Mahmud Ghaznawi dalam perkataan sejarah Islam di India itu, senantiasa orang menyebutkan kedua nama ini laksana dikembarkan, ialah Sultan Muhammad Abul Muzaffar bin Al-Husain Al-Ghuri.[21]
            Naiknya Muhammad Al-Ghuri maka seluruh wilayah yang dahulu dikuasai oleh kerajaan Ghaznah, semua ditaklukan dan dikuasainya. Kota Delhi dipilih menjadi pusat pemerintahannya secara permanen. Kekuasaannya lebih luas dari kekuasaan kerajaan Ghaznawi dulu, terutama memilih Delhi menjadi pusat. Sebab dari sana  mudah sekali membagikan kekuasaan ke seluruh benua India itu. Maharaja-maharaja India mengaku takluk dan membayar upeti setiap tahun. Muhammad Al-Ghurilah yang ,menanamkan kekuasaan Islam yang sebenarnya di India Itu, yang kemudian diikuti oleh kerajaan-kerajaan Islam yang datang di belakang, meskipun penduduk asli sebagai jumlah yang terbesar, namun undang-undang pokok yang berlaku dalam seluruh India ialah undang-undang Islam. Maharaja-maharaja tunduk ke bawah kekuasaan itu dan bebas melakukan agamanya dan mendirikan kuilnya.[22]
            Sultan Mu’izzuddin Muhammad Ghuri (1163-1203 M) dan para jenderalnya menjadikan Punjab sebagai batu loncatan untuk menguasai India Utara. Sultan mempercayakan daerah taklukkann Dinasti Ghuri di India di tangan panglimanya yang bernama Quthbuddin Aybak, yang menjalankan pemerintahan di kota Delhi. Dia menguasai taklukkan Ghuriyyah di Punjab, wilayah Doab (antara sungai Gangga dan Jumma) dan menyerbu hingga Gujarat. Setelah Sultan Mu’izzuddin Muhammad  Ghuri meninggal dunia pada 1206 M, Quthbuddin Aybak mengangkat dirinya sebagai penguasa (Malik) di Lahore atas nama Sultan Ghuriyyah. Sejak itu dimulai era yang dikenal dengan Raja Budak (berkuasa 1206-1290 M). Bersama dengan 5 dinasti yang lain, yaitu Dinasti Khalji (1290-1320 M), Dinasti Tughlaq (1320-1414 M), Dinasti Sayyid (1414-1451 M), Dinasti Lodi (1451-1526 M) dan Dinasti Suri/Afghan (1540-1555 M), masa ini disebut dengan masa Kesultanan Delhi, karena pusat pemerintahannya semua berada di kota Delhi.[23]
            Seperti dijelaskan di muka bahwa pada 1206-1290 M, kepemimpinan pemerintahan dan kesultanan Ghuri dan misi penaklukkannya dilanjutkan kembali oelh panglima utamanya, Quthbuddin Aybak. Ia sang penakluk Delhi ini. Untuk selanjutnya, secara independen, ia membentuk dinasti yang berpusat di Delhi dengan nama Kesultanan Delhi (1206-1526 M). Kesultanan yang berisi para budak militer ini juga menandai adanya periode tunggal dalam sejarah Muslim India. Inilah periode             kekuasaan para budak militer  (the slave soldiers) yang mewarnai wilayah Timur Islam, pasca Abassiyah di sebelah Barat, terutama Mesir dan Syria, kekuatan seperti ini sedangditunjukkan pula oleh para budak-budak militer Turki yang teroganisir dalam Muluk al-Burji dan Muluk al-Bahri. Mereka pada umumnya, mencari legimtimasi kekuasaan dengan bernaung di bawah legitimasi para pewaris keluarga khalifah Dinasti Abassiyah.[24]
            Kesuksesan sultan-sultan budak dalam memerintah wilayah sekitar India bukan hanya menghasilkan kontrol politik , melainkan juga sangat mewarnai proses Islamisasi. Salah satu cara yang dilakukan para penguasa untuk mengenalkan Islam kepada Mereka adalah menerjemahkan teks-teks keislaman dengan jumlah kurang lebih 1.500 buah dari bahasa Arab dan Persia ke dalam berbagai bahasa lokal India. Dengan cara demikian, pemikiran tentang keislaman masuk ke dalam masyarakat India, kecuali di pusat-pusat Hindu yang ekstrem seperti di Vijayanagar. Contoh spesifik dalam hal ini adalah hubungan Sultan Muhammad Tughlaq (1325-1351 M) yang begitu dalam dengan pemikiran Ibnu Taimiyah (1263-1327 M), seorang pemikir pasca Mongol (the post Mongol period).
            Sultan-sultan budak setelah periode Khalji (1290-1320 M) dan Tughlaq (1320-1413 M) mulai menurun. Periode ini dipegang oleh keluarga budak Sayyid (1414-1451 M) turunan keluarga Rasulullah Saw, dan keluarga Lodi (1451-1526 M). Banyak kekuatan Muslim dan non-Muslim yang melepaskan diri menjadi wilayah-wilayah merdeka. Sekalipun demikian, tradisi Persia tetap terpelihara dalam bahasa administrasi di wilayah-wilayah kekuasaan. Secara keseluruhan, periode pembentukan pemerintahan Muslim di India masa ini adalah dominasi Turki yang sepak terjangnya bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan (jabatan) yang dimilikinya dari serangan orang-orang non-Turki, baik penetap atau yang migrasi ke India. Inilah yang disebut gerakan ‘‘Islam politik Turki‘‘.[25]
            Shir Shah Suri (1540-1555 M). Tokoh ini mampu berkuasa di Delhi karena dapat mengalahkan Humayun (putra Babur) dalam pertemuran di Kanawj pada 1540 M. Shir Shah Suri adalah figur raja yang cakap dalam memerintah. Dalam kaitann dengan land-reform, Sultan Shir Shah Suri mengorganisirkan parganas (semacam desa-desa) sebagai satuan-satuan administratif dan mengangkat Amin bertanggung jawab menangani soal pengumpulan pajak/penaksiran penghasilan dan tugas-tugas perdata. Sementara Shiqdar mempunyai fungsi dan kekuasaan kepolisian (mengurusi soal-soal pidana).
            Sayangnya para penerus Shir Shah Suri merupakan figur raja-raja yang lemah, sehingga Humayun dari Dinasti Mughal mampu melakukan revanche (pembalasan) yang berakibat ambruknya kekuasaan Dinasti Suri dan mulailah masa imperium Mughal yang agung.[26]
            Dinasti Turki-Afgani digantikan oleh Dinasti Mughal, Enam Maharaja yang pertama dari Dinasti ini (1526-1707 M), mempunyai pemerintah yang gemilang. Disepanjang zaman orang menganggap pemerintahan yang Enam itu, sebagai zaman emas pemerintahan Islam di India.
            Babur (1526-1530 M), pemenang dari Dinasti tersebut, mulanya adalah raja dari kerajaan Turkistan yang begitu penting artinya. Karena keunggulan pasukan meriamnya, dapat mengalahkan keturunan yang akhir dari Dinasti Turki-Afgani, yaitu Lodi. Raja-raja Mughal lah yang meletakkan dasar pemerintahan modern di India dan gedung-gedung yang didirikan oleh mereka sampai sekarang menjadi buah pujian.
            Akbar (1556-1605 M) menaklukan seluruh India, terkecuali ujung yang disebelah selatan sekali. Keadaan ekonomi selama pemerintahannya sehat oleh karena pemungutan pajak tanah dilakukan secara teratur dan teliti. Sejak ia naik tahta, ia menetapkan bahwa kekuasaan yang dipegangnya itu tidaklah boleh bersandar hanya pada kesetian pembesar-pembesar yang berbangsa Mughal, Turki dan Afghani. Tapi harus bertopang pada kesetiaan rakyat banyak, dengan tidak memandang bangsa maupun agama. Demikianlah baginda mendapat sokongan dari kepala-kepala bangsa Rajput karena baginda memperkenankan mereka sendiri. Pada golongan Hindu nama raja menjadi harum oleh karena ia melarang pemungutan pajak atas orang-orang Hindu yang pergi berziarah. Juga jizyah, yaitu pajak yang dikenakan pada orang yang bukan beragama Islam, dihapuskan baginda. Dalam politik-agama ini Akbar disokong oleh wazirnya yang termashur, Abu Farl. Pada lapangan pemerintahan pun tidaka ada perbedaan. Orang Hindu dipakai sebagai menteri dan kepala-tentara. Kota kediamannya Fatehpur Sikri, menunjukkan sintesa yang baik sekali antara gaja-Hindu dan Muughal. Tujuan hidup baginda ialah melihat rakyat rukun, damai dan bersatu. Oleh karena itu ia mengajak ulama-ulama Islam, biksu-biksu Hindu dan pendeta-pendeta Kristen bertukar pikiran dengan dia untuk menciptakan sebuah agama baru. Dalam agama yang baru ini dialah yang akan menjadi pusatnya.[27]
            Sultan Akbar wafat karena terserang penyakit disentri. Lalu putranya yang bernama Salim dinobatkan sebagai penggantinya dengan bergelar Nuruddin Jahangir (1605-1627 M). Jahangir tidak secakap  ayahnya, hanya saja dia mewarisi pemerintahan yang sudh mapan dan teratur hasil kerja ayahnya. Dia hidup di istana Delhi dalam kemewahan. Tabiatnya tidak tetap, kadang bisa bengis, tetapi terkadang sangat halus perasaannya. Ini membuat Jahangir mudah dipengaruhi oleh permaisurinya. riwayat hidup Jahangir ditulisnya sendiri (otobiografi) yang tertuang di bawah judul Tzuki Jahangiri. Jahangir kemudian digantikan oleh putranya, hasil perkawinan dengan Nur Jehan, bernama Khurram yang nantinya bergelar Syah Jehan. Sayangnya Khurram berhasil naik tahta dengan jalan yang memberontak terhadap jahangir pada 1627 M, saat mana Jahangir sedang sibuk berperang dengan raja Iran memperebutkan Kandahar.[28]
            Syihabuddin Syah Jehan (1628-1658 M) memerintah, menurut suatu berita, dengan cara membunuh hampir semua keluarganya, termasuk adiknya, Syah Ryar. Tahun pertama pemerintahannya, Syah Jehan harus menghadapi Khan Jahan Lodi, penguasa Afghanistan yang menyerbu India Utara. Tahun kedua, Syah Jehan bertempur dengan bangsa Rajput. Kedua musuh tersebut dapat dipukul mundur.
            Syah Jehan menikah dengan seorang putri bernama Mumtaz Mahal, anak Azaf Khan (saudara Nur Jehan). Inilah istri yang sangat dikasihi oleh Syah Jehan dan ketika meninggal dalam tahun 1631 M, Syah Jehan membangun Taj Mahal untuk mengenang istrinya itu. Bangunan Taj Mahal adalah puncak dari arsitektur imperium Mughal, semua bahan tersebut terbuat dari batu marmer, sangat indah dan monumental. Bangunan yang berfungsi sebagai makam (simbolik) ini terletak di kota Agra.[29]
            Dalam masa pemerintahan Syah Jehan, Inggris mulai melakukan aktivitas perdagangan di wilayah imperium Mughal. Ketika itu boleh dikatakan aktivitas Inggris masih murni perdagangan dan para penguasa Mughal menerima mereka dengan baik. Contoh, kunjungan Sir Thomas Roe kepada Sultan Jahangir pada 1616 M membuat inggris diizinkan mendirikan ‘‘factory“ (kantor dagang) di Masulipatam. Pada 1639 M, Syah Jehan dengan kerelaan dari pangeran Chandragiri (keturunan raja-raja Vijayanagar yang telah ditaklukkan oleh imperium Mughal dan telah beragama Islam), menghadiahkan sebidang tanah di kota Madras kepada bangsa Inggris/East India Company (EIC) yang kemudian dibangun ‘‘factory‘‘ dan benteng St. George. Antara 1650-1651, sultan Syah Jehan juga mengizinkan EIC untuk mendirikan ‘‘factory‘‘ di kota Hugli dan Qasimbazar serta memberi beberapa konsesi dagang.[30]
            Dari pernikahannya dengan Mumtaz Mahal, Syah Jehan mempunyai empat putra yang nantinya saling bersaing untuk memperebutkan tahta Mughal. Mereka semua diangkat menjadi gubernur yaitu Dara Syikoh, Syah Syuja, Aurangzeb dan Murad Bakhsy.[31] Secara umum, pada periode Syah Jehan, terutama pada akhir kekuasaannya, ada dua kebijakan yang dimainkan oleh dua orang putranya, Dara Syikoh dan Aurangzeb. Dara syikoh lebih berpikiran uniersal karena lebih banyak menggunakan hukum-hukum Hindu bila dalam Alquran tidak ditemukan, dibandingkan hasil-hasil ijtihad ulama saat itu. Sebaliknya, Aurangzeb lebih menekankan tradisi Islam (nilai-nilai syariah, tradisional). Pada akhirnya, Dara Syikoh dibunuh oleh Aurangzeb dan ayahnya, sedangkan Syah Jehan dienjarakan. Ia mewarisi kesultanan pada 1658 M.[32]
            Aurangzeb (1658-1707 M) adalah raja Mughal yang akhir sekali. Sifatnya rajin, bersungguh-sungguh dan beriman. Tujuan pemerintahannya ialah menyusun kerajaan menurut hukum-hukum Islam. Jizyah yang semasa Akbar dihapuskan, ditimbulkan kembali. Tempat-tempat memuja berhala diruntuhkan dan orang-orang Hindu dikeluarkan dari jabatan pemerintahan yang tinggi-tinggi.
            Memang sebagian besar dari hidupnya dihabiskan oleh Aurangzeb untuk berperang. Berperang melawan kepala-kapala suku bangsa Hindu Rajputana dan Maratha. Tidaklah mengherankan kalau akhir pemerintahan yang serupa itu ialah kekacauan ekonomi. Suku bangsa Maratha terus-menerus melakukan perang gerilya, tapi ini bukanlah sebab yang utama meruntuhkan kerajaan itu. Sebab-sebab yang langsung, harus dicari pada pemungutan pajak yang tidak beraturan dan juga karena orang yang menggantikan Aurangzeb tidak kuasa mempertahankan dan  menjatuhkan seluruh kerajaan.[33]


KESIMPULAN

            Pada zaman Nabi SAW. Islam masuk ke India secara melalui perdagangan di kota-kota pesisir pantai barat dan selatan. Pada waktu itu kondisi sosial dan politik India sedang rapuh dengan terjadinya penindasan kaum kasta Brahmana terhadap kasta yang lebih rendah dan orang-orang Budha juga terjadinya perebutan kekuasaan di antara raja-raja Hindu. Hubungan politik antara Arab dan India sedang rapuh. Dalam kondisi demikian pasukan Islam di bawah pimpinan Muhammad bin Qasim datang membawa harapan bagi keselamatan orang-orang yang tertindas. Sejak saat itu agama Islam tersiar di India baik melalui jalur laut dan jalur darat. Pergerakan pasukan Islam ke India terus berlangsung sampai terbentuknya Kerajaan Islam.
            Kehadiran Islam berpengaruh terhadap seluruh tatanan kehidupan orang-orang Hindu yang musyrik dan jahiliah. Pada era Islam, terdapat kebangkitan berbagai aspek kehidupan, ekonomi, pendidikan, politik, dan lainnya. Kehadiran Islam di India juga telah mendorong meningkatnya perdagangan yang tadinya lokal menjadi lebih global. Lewat pedagang-pedagang Muslim, perdagangan India menyebar ke Timur Tengah, Mongolia, dan Indonesia di Asia Tenggara. perkembangan peradaban semakin pesat dengan banyaknya para sufi, ulama, ilmuwan dan para ahli di berbagai bidang masuk ke India. Kedatangan Islam ke Anak benua India tidak berdasarkan kekerasan, tetapi merupakan kebutuhan masyarakat saat itu.





                [1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia Bandung, 2008), h. 300-301.
                [2] Hamka, Sejarah Umat Islam (Jakarta:Pustaka Nasional PTE LTD Singapore, 1994), h. 482.
                [3] Ibid.,
                [4] Abdul Karim, Sejarah Islam Di India (Yogyakarta: BUNGA Grafies Production, 2003), h. 3.
                [5] Abdul Karim, sejarah pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), h. 255.
                [6] Abdul Karim, Sejarah Islam Di India, h. 4-5
                [7]Ibid., h. 6.
                [8]Abdul Karim, sejarah pemikiran dan Peradaban Islam, h. 256.
                [9] Abdul Karim, Sejarah Islam Di India, h. 7-8.
                [10]Abdul Karim, sejarah pemikiran dan Peradaban Islam, h. 256.
                [11] Abdul Karim, Sejarah Islam Di India, h. 8.
                [12] Ibid., h. 8-9.
                [13] Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999). h. 220. 
                [14] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Kawasan Dunia Islam (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009), h. 199.
                [15] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997), h. 145.
                [16] Artikel diakses pada 25 September 2012 dari http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2155505-masuknya-islam-di-india/#ixzz26ouZal1l
                [17] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Kawasan Dunia Islam, h. 199.
                [18] Harun Nasution, Sejarah Ringkas Islam (Jakarta: Djambatan, 1982), h. 14.
                [19] Abdul Karim, Sejarah Islam Di India (Yogyakarta: BUNGA Grafies Production, 2003), h. 29-30.
                [20] Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta:Pustaka Nasional PTE LTD Singapore, 1994), h. 489.
                [21]Ibid.,
                [22]Ibid., h. 490.
                [23] Suwarno, Dinamika Sejarah Asia Selatan (Yogyakarta: Ombak, 2012), h. 73-74.
[24] Ajid Thohir dan Ading Kusdiana, Islam di Asia Selatan (Bandung: Humaniora, 2006), h. 88-89.

                [25] Ibid., 90-92.
                [26] Suwarno, Dinamika Sejarah Asia Selatan, h. 87-88.
                [27] Pakistan: Sebuah Negara Islam Muda (Jakarta: Djambatan, 1952), h. 18-19.
                [28] Suwarno, Dinamika Sejarah Asia Selatan, h. 95-96.
                [29] Ibid., h. 97.
                [30] Ibid., h. 97-98.
                [31] Ibid., h. 98.
                [32] Ajid Thohir dan Ading Kusdiana, Islam di Asia Selatan, h. 101.
                [33] Pakistan: Sebuah Negara Islam Muda, h. 19-20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar